Sejarah Singkat

Pentjak Silat

Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka



Pada Abad ke 19, Pasangan suami istri dari Kampung Tanjung Pura Garut bernama Mama H. Usman & Hj. Halimah berhijrah ke daerah Kampung Geger Pasang, Desa Sukarasa, Kecamatan Samarang Kabupaten Garut, beliau bermukim dan menata kampung di daerah tersebut sekitar tahun 1870.

Mereka di karuniai anak :

Anak ke 1 bernama H. Asy'ari

Anak ke 2 bernama H. Adji Djaenudin ( 1908 )

Anak ke 3 bernama Halil (Aih)

Anak ke 4 bernama Endin

Anak ke 5 bernama Muhammad Ateng(Apih)

Anak ke 6 bernama Hj. Ooh

Anak ke 7 bernama Hj. Toto

Setelah menjalani hidup di kampung yang baru istri H. Usman meninggal dunia di kp gegerpasang, beberapa tahun kemudian H. Usman menikah lagi dengan Ma Darsih mempunyai anak :

Anak ke 1 bernama Muhammad Udang

Anak ke 2 bernama Ma Otoy


Pada saat itu dikarenakan genting dengan penjajahan di Indonesia pada masa Belanda, H. Usman mengajarkan jurus jurus persilatan kepada anak anaknya agar mempunyai rasa tanggungjawab membela diri & bela bangsa Indonesia. dari semua anak anaknya yang dilatih ada satu anak yang lebih menonjol yaitu Kh. Adji Djaenudin anak ke 2 dari istri pertama. Setelah anak tersebut menyerap semua ajaran persilatannya, pada tahun 1927 H. Usman menugaskan anaknya H. Adji Djaenudin untuk mencari ilmu persilatan lebih luas ke setiap pelosok daerah, dari sekian banyak guru yang beliau serap ilmunya ada beberapa guru diantaranya :

- Ke daerah Cimahi yang sekarang menjadi Kota Cimahi yaitu Mama Sa'i.

- Ke daerah Kecamatan Ciampea dan Tarik Kolot Kabupaten Bogor yang bernama Mbah Bi'in.

- Ke daerah Kwitang Jakarta yang bernama Bang Alif dan Bang Jam'an.


Setelah KH. Adji Djaenudin berkelana mencari ilmu persilatan, Beliau kembali lagi ke daerah asalnya Kampung Geger Pasang, Desa Sukarasa Kecamatan Samarang Kabupaten Garut untuk memberikan hasil tugas berguru tersebut kepada ayah handanya H. Usman.

Beberapa tahun kemudian KH. Djaenudin menikah dengan seorang wanita bernama hj. Atikah mempunyai satu anak perempuan yaitu Euis Siti Umamah. Selang beberapa tahun setelah mempunyai anak. KH adji djaenudin mengalami goncangan rumah tangga, sampai akhirnya beliau dan istrinya Hj. Atikah Bercerai.

KH Adji Djaenudin di landa kegelisahan sampai akhirnya ayahanda nya memerintahkannya kembali untuk mencari ilmu beladiri ke Pangalengan kab bandung agar pikiran anaknya tidak terlalu fokus pada permasalahan yang terjadi. Beliau kh adji djaenudin di tugas berguru kepada Mbah Jamhari seorang pria dari pasir malang, Pangalengan.

Setiba disana kh Adji Djaenudin sempat di tolak oleh Mbah Jamhari, karena Mbah Jamhari tahu kh adji djaenudin adalah anak dari musuh rival nya yaitu H. Usman yang dulu pernah mengalahkanya di kampung gegerpasang pada saat H. Usman hijrah pertama kali di gegerpasang.

KH. Adji djaenudin pun menjelaskan kepada Mbah Jamhari. Bahwa ayahnya yang memerintahkannya untuk berguru kepadanya. Mbah Jamhari pun bingung dan kaget setelah mendengar berita tersebut. Bahkan kh adji djaenudin pun menyebutkan dengan bahasa Sunda ( Jamhari mah eleh soteh ku mama, ku Batur mah can tangtu ) atau dalam bahasa Indonesia ( Jamhari kalah nya sama saya, kalau sama yang lain belum tentu bisa kalah )

Lalu Mbah Jamhari pun tersenyum dan menerimanya untuk diterima sebagai murid. Selain berguru, Kh adji djaenudin bertemu dengan jodohnya yaitu seorang perempuan bernama Ma mu'ah dan menikah lalu menetap disana.

Sekitar tahun 1957 kabar duka datang ke telinga kh adji djaenudin yaitu ayahnya meninggal dunia dan Kh. Adji djaenudin kembali ke kampung Gegerpasang untuk menggantikan sosok H. Usman dan tidak kembali ke Pangalengan. Setelah tinggal kembali bersama istri di kampung Gegerpasang, pada tahun 1957 kh Adjii djaenudin beserta Adik adiknya yaitu Bapak halil ( Aih ), M Ateng ( Apih ) membuka Ajaran bela diri yang telah dipelajarinya untuk dikembangkan kepada publik pada tahun 1957.

Setelah satu tahun mengajar Pada tahun 1958 buminglah persilatan tersebut di Jawa Barat khususnya di Garut.

Example Image100

Karena banyaknya orang dan antusiasme dari berbagai kalangan, Kh Jaenudin dan saudara-saudaranya meresmikan pada tahun 1959 di KP. Gegerpasang yang disebut di dalam Pandeul / Panji " PENTJAK SILAT MEGA PAKSI PUSAKA & Gambar kepala gajah berwarna putih "

Example Image101

dengan bantuan aparat daerah, yaitu Kapten TNI bapak Oking, Kepala Kecamatan Samarang Bapak camat Enton.


dari sekian banyak jurus jurus yang Beliau pelajari, Beliau merangkumkannya menjadi 4 ajaran:

1. Ajaran pertama yaitu jurus jurus sebanyak 24 jurus

2. Ajaran kedua yaitu langkah langkah jurus

3. Ajaran ketiga yaitu ondean.

4. Ajaran keempat yaitu kawinan.


Pada tahun 1975-1980 dengan bantuan dari institut teknologi Bandung, KH. Adji Djaenudin bersama saudara saudaranya membuat emblem ( logo ) " PENTJAK SILAT GADJAH PUTIH MEGA PAKSI PUSAKA "

Example Image102

Adapun arti dari nama pesilatan tersebut diartikan sebagai berikut:


GADJAH PUTIH : Seekor satwa besar yang gagah berani berwarna putih yang melambangkan kesucian, diibaratkan sebuah kendaraan dalam membela kebenaran dan kebajikan hidup yang diridoi oleh Allah SWT, dan belalai gajah dengan kelincahannya serta kuat bermulti guna demi kemaslahatan umat manusia.

MEGA : Luhur, bercita-cita tinggi dalam membela nusabangsa yang berpancasila dan beragama.

PAKSI : Jujur, Cepat, Lurus demi keadilan, kebenaran dan keparipurnaan hidup manusia Duniawi dan Uhrowi.

PUSAKA : Terpelihara, Wajib dipelihara warisan leluhur supaya tetap tunggal dengan kesatuan dan persatuan dalam membela dan mencapai cita-cita.


Dan juga diberi moto yang berbunyi:

" Elmu Luhung Teu Adigung Sakti Diri Teu Kumaki Yakin Usik Kersaning Illahi "

yang berarti

"Ilmu Tinggi Tidak Angkuh Sakti Diri tidak Takabur Yakin Prilaku perkenan Illahi"


Secara sederhana aliran silat Gadjah putih Mega Paksi Pusaka dirumuskan sebagai berikut :

SERA - KARI - MADI = RINGAN - KERAS - PERTIMBANGAN


Adapun Ajaran pertama jurus jurus Silat Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka adalah sebagai berikut :

1. Jurus

2. Susun

3. Potong

4. Sikut

5. Depan Potong

6. Depan Sikut

7. Simur

8. Selup

9. Tebang Luhur

10. Tebang Bawah

11. Sangkol

12. Alip Sangkol

13. Sentak

14. gendong Macan

15. Kuwitang

16. Kiprat

17. Setembak

18. Serong

19. Alip catok

20. Alip Naga Berenang Kedet

21. Kepruk Dongkari

22. Dongkari Tunggal

23. Tendang Besot Paksi Muih

24. Alip Tilep Leungit

Jurus- Jurus tersebut diatas mempunyai arti masing masing sasaran untuk memperoleh adeg adeg tenaga fisik guna membina kekuatan jasmani.


Adapun ajaran Langkah-langkah jurus

Adalah merupakan pasangan dari jurus silat Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka mengatur dan memecahkan usik disamping keindahan, juga merupakan perlambang akidah, mengatur langkah kehidupan dan perbuatan, pribadi, organisasi, terpelihara.


Adapun ajaran Ondean yaitu

Adalah semacam ujian melalui upacara dipadepokan antara maha guru (dulu) atau sekarang oleh Dewan Sesepuh dengan muridnya yang telah mencapai tahap pendidikan dan latihan, yang dilukiskan sebagai pemberian doa restu sepenuhnya dimana ilmu yang diberikan guna kebenaran sesuai lambang Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka.


Adapun ajaran Kawinan yaitu

Ilmu pengetahuan yang telah dipelajari oleh seorang murid disertai pengertiannya, Maha guru merasa perlu untuk dikukuhkan dalam suatu upacara yang merupakan peresmian sebagai ikatan batin. Upacara semacam ini juga dimaksudkan sebagai peletakan rasa tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara segala ilmu yang telah dicapainya baik fisik maupun batin.